Friday, August 31, 2012

Magic

You know, sometimes just few words can make you feel so much better with what you really are. And it becomes your spell when you need it the most. Instead you'll feel important just like anybody else. And the universe deserves you indeed.
So this is mine.
"Sometimes people are beautiful. No in look, not in what they say. Just in what they are."
How about you? Did you find one?
Well, I hope you're gonna find it soon.

Tuesday, August 7, 2012

Kids In Alley

Perempuan itu duduk termangu di beranda. Melihat anak-anak bermain di tengah lapangan tepat di seberang rumah. Ditemani segelas es lemonade yang kecut karena lemonnya namun seimbang dengan manis gulanya. Rambutnya sekarang sudah melebihi bahu dan sudah tak ada lagi yang namanya ekor kuda. Mengamati mereka itu.... just makes the old things back, pikirnya.
Ia pikir dulu bermain seperti itu tidak asik. Lengket dan ‘gosong’. Matahari terlalu kejam untuknya. Ya dia dulu hanya anak rumah. Tak pergi kemana-mana saat pulang sekolah, mengobrol secukupnya saja dengan orang rumah, langsung pergi ke beranda untuk melihat mereka disiksa oleh terik matahari namun mereka bergeming tak peduli. Bermain sangat mengasyikkan, apalagi dengan teman.

Sekarang? Ia kembali ke tempat ini. Di beranda ini lagi. Sama seperti dulu. Bedanya mereka yang biasanya ada di tengah lapangan saat kecil dulu sudah digantikan oleh penerus mereka yang baru. Karena mereka sekarang sudah disibukkan oleh kehidupan yang nyata. Kehidupan yang memfrasekan ‘tidak ada waktu untuk bermain’ disetiap detik waktunya. Namun berita yang terdengar kelompok mereka awet hingga sekarang.

Mungkin kau bisa bilang dia menyesal. Tidak kawan, ia tidak menyesal. Namun kecewa.
Mengapa saat itu mereka tidak mengajaknya? Jelas-jelas ada satu diantara mereka yang melihatnya duduk di beranda. Mereka pasti juga tahu ia benci dengan si matahari. Tapi setidaknya mereka pantas untuk mencoba. Perempuan itu bahkan perlu waktu berpikir yang sangat lama untuk menolak, dan dalam sepersekian detik cepatnya mengiyakan ajakannya.

Dapat berumur seperti anak-anak yang sedang ia lihat dan segera berlari menuju mereka dan bergabung bersama tanpa menunggu ajakan mereka. Ia sempat menginginkan itu.
Ia tidak akan mengulangi kesalahan kedua kalinya. Sayangnya, not everyone deserves a second chance.

Thursday, July 26, 2012

Diamond In The Rough


Dia namanya. Bukan nama aslinya. Karena kita akan memanggil dia dengan; dia.
Dia yang biasa. Terlalu biasa untuk dipandang orang-orang lain. Mereka itu bersinar seperti berlian mahal, membuat matamu sakit. Oleh sinar dan harganya.

Dia tidak banyak bicara. Karena tidak pandai dalam bicara--walaupun zodiaknya menyatakan dengan jelas bahwa ia cukup humoris untuk membuat perutmu terkocok----hingga ia sering sekali terlempar dari kerumunan. Membawanya ke sudut-sudut ruangan, tempat yang sebenarnya dia berada. Yang kosong dan sepi. 
Kita seharusnya prihatin, merasa iba. Begitu pula dengan hal yang diinginkannya. Namun mereka itu hanya manusia. Yang mereka tahu adalah tidak tahu.

Dia tidak terlihat namun segilintir masih bisa melihat bayangannya. Tapi dia kini sedang mencoba menghilang selama ia bisa. Kau tak akan melihatnya lagi, ia menjamin akan yang satu itu.
Dia tahu dia merasa tidak nyaman. Bagaimana ingin merasa nyaman jika tak seorangpun yang benar-benar ingin mendengar ceritamu? Bahkan untuk sempat memikirkannya saja tidak. Tubuh mereka itu bukan semuanya telinga namun corong. Jelas saja untuk memperkeras cerita mereka agar lebih didengar, kalau bisa sampai belahan dunia. 
Itu manusia. Dia pun juga manusia. Dia juga ingin didengar tapi tak sebanyak itu.

Dia tidak berharap apa-apa. Meski aku tahu ia sangat menginginkannya. Bahwa dia ada, seseorang diluar sana yang siaga mendengar dengan tubuh penuh telinga. Melihat dia, sebuah berlian dalam bentuk kasar. Yang akan berkilauan tepat waktunya. 

Dia pikir mustahil. Tapi aku ingin bahwa dia tahu aku mempercayainya.
Bahwa dia yang aku dan kita berdua bisa menemukan seseorang itu.

"you can't keep the shiniest diamond for being admired." - Gerardo Martinez

Tuesday, July 24, 2012

Saturday, July 21, 2012

For Some Reasons, I Would Feel The Same Way Someday

"Again and again, however, we know the language of love, and the little churchyard with its lamenting names and the staggeringly secret abyss in which others find their end: again and again the two of us go out under the ancient trees, make our bed again and again between the flowers, face to face with the skies" - Rainer Maria Rilke, "Again And Again, However We Know The Landscape Of Love"

Namun lagi dan lagi kita mengenal bahasa cinta, dan halaman gereja kecil disana,
dengan nama-nama menyedihkan dan jurang rahasia menakutkan tempat orang lain menemukan akhir mereka:
lagi dan lagi kita berdua berjalan keluar menuju pepohonan tua,
berbaring lagi dan lagi di antara bunga, berhadap-hadapan dengan langit

Betmen Rock My Day

Feel exhausted. Now my bones are like, crack on all sides. But really, yesterday was epic day of my life. Umm, sort of. I never spent my day with both my family & friends at the same time. And felt good about it. Although the weather was hot as hell.

I and a friend of mine was watching movie in cinema. We watched The Dark Knight Rises. The movie? awesome. When the movie ended I was all like, amazed by it. Batman is always really worth watching. I started to think that Christian Bale the guy who played to be Bruce Wayne is such an attractive person. Hihi.
I bought something too, we did window-shopping.
A hat with raccoon tail attached at the back like those of the hunter's and two CDs. I don't have any idea what hat it is. My thought is that hat is usually wore by a person for hunting on such a cold weather.
It's silly, isn't it? It looks a lot like a real raccoon. Well spending a lot of money for unnecessary things is, you could say, my ability. But the rest, I indeed had so much fun. Spend two and a half hours to sit and watch Batman is already paid off after all.